PADANG|Fajar baru saja merekah di kawasan Balaiyasa Padang ketika deretan lokomotif terparkir rapi seperti prajurit yang menunggu aba-aba. Suara ketukan besi, dengungan mesin, dan percakapan teknisi berpadu menjadi irama kerja yang tak pernah benar-benar berhenti. Di balik aktivitas itu, ada satu tujuan besar yang sedang dikejar: memastikan setiap perjalanan kereta api selama Lebaran berlangsung aman tanpa cela.
Menjelang Angkutan Idul Fitri 1447 Hijriah, PT Kereta Api Indonesia Divisi Regional II Sumatera Barat mempercepat ritme perawatan sarana. Tak sekadar rutinitas, langkah ini menjadi operasi besar-besaran demi menjawab lonjakan penumpang yang dipastikan terjadi saat musim mudik. Semua mata tertuju pada kesiapan armada.
Kepala Humas KAI Divre II Sumbar, Reza Shahab, berdiri di garis depan komunikasi sekaligus pengawasan. Ia menegaskan bahwa Balaiyasa Padang, Depo Lokomotif Padang, Depo Kereta Padang, hingga Depo Gerbong Kelas B Bukit Putus memegang peran strategis dalam menjaga napas operasional kereta api di Ranah Minang. Setiap titik bekerja seperti mata rantai yang tak boleh putus.
Bagi Reza Shahab, perawatan bukan hanya urusan teknis, melainkan soal tanggung jawab terhadap keselamatan ribuan orang. Karena itu, setiap lokomotif dan kereta menjalani pemeriksaan detail, dari sistem pengereman, kelistrikan, hingga komponen terkecil yang kerap luput dari perhatian awam. Tak ada ruang bagi kelalaian.
Pendekatan preventif menjadi senjata utama. Sarana dirawat sebelum mengalami gangguan, bukan setelah rusak. Dengan pola ini, potensi masalah ditekan sejak awal sehingga kereta yang berangkat dari stasiun benar-benar dalam kondisi prima. Filosofinya sederhana: mencegah selalu lebih baik daripada memperbaiki di tengah perjalanan.
Di sisi lain, kualitas sumber daya manusia ikut diperkuat. Para teknisi rutin mengikuti pelatihan dan sertifikasi agar kemampuan mereka selaras dengan standar perawatan modern. Reza Shahab menyebut kompetensi SDM sebagai fondasi utama, sebab teknologi secanggih apa pun tetap bergantung pada ketelitian manusia.
Transformasi digital pun digerakkan. Aplikasi mobile dan dashboard berbasis web digunakan untuk memantau jadwal serta progres perawatan secara terintegrasi. Melalui sistem ini, setiap pekerjaan tercatat rapi, memudahkan pengawasan sekaligus mempercepat respons bila ditemukan kendala.
Reza menjelaskan, seluruh perawatan periodik telah dipetakan dalam rencana yang disiplin. Jadwal tidak boleh meleset karena satu keterlambatan bisa berdampak pada rangkaian operasional lainnya. Dengan perencanaan matang, setiap sarana diharapkan siap melayani pelanggan tanpa hambatan teknis.
Baginya, keselamatan adalah prinsip yang tak bisa ditawar. Proses rampcheck dilakukan ketat sebelum armada dinyatakan layak operasi. Pemeriksaan berlapis memastikan kereta yang membawa penumpang benar-benar memenuhi standar keselamatan tertinggi.
Tak hanya di dalam bengkel, manajemen juga turun langsung ke lapangan. Inspeksi dilakukan ke emplasemen Stasiun Padang, Depo Lokomotif, Depo Kereta, hingga lokasi stabling. Kondisi kebersihan, sistem pendingin udara, sampai fasilitas darurat diperiksa satu per satu tanpa pengecualian.
Peralatan keselamatan menjadi perhatian khusus. Palu pemecah kaca darurat, Alat Pemadam Api Ringan, serta perlengkapan evakuasi dipastikan tersedia dan berfungsi baik. Semua itu disiapkan sebagai antisipasi agar penumpang tetap terlindungi dalam situasi tak terduga.
Untuk kondisi darurat seperti anjlokan, Divre II Sumbar melengkapi diri dengan rerailing jack equipment. Alat ini memungkinkan proses evakuasi lebih cepat dan efisien sehingga gangguan operasional dapat diminimalkan. Kesiapan seperti ini menjadi bagian dari strategi menghadapi risiko terburuk.
Peningkatan fasilitas depo juga dilakukan bertahap. Dimensi balok tumpuan dinormalisasi agar mendukung penggunaan alat evakuasi, sementara peralatan otomatis diperbarui dan dikalibrasi secara berkala. Tujuannya satu, menjaga akurasi kerja teknisi tetap presisi.
Di tengah semua upaya itu, Reza Shahab kembali menekankan komitmen KAI Divre II Sumbar untuk menghadirkan perjalanan yang bukan hanya tepat waktu, tetapi juga nyaman. Ia ingin masyarakat merasa tenang sejak naik hingga tiba di tujuan, tanpa dihantui kekhawatiran soal kondisi sarana.
Lebaran selalu identik dengan cerita pulang kampung, pelukan keluarga, dan harapan baru. KAI Divre II Sumbar ingin menjadi bagian dari momen hangat itu dengan memastikan rel, roda, dan mesin bekerja selaras mengantar penumpang. Kereta tak sekadar alat transportasi, melainkan jembatan rindu.
Ketika malam kembali turun dan lampu bengkel masih menyala, para teknisi tetap sibuk memeriksa armada. Di sanalah komitmen itu terasa nyata. Di bawah pengawalan Reza Shahab, setiap perjalanan disiapkan dengan kesungguhan, agar ribuan pemudik bisa melaju aman menuju rumah.
[ Andri HD]
