PADANG|Sabtu 7 Februari 2026, rumah keluarga di Jalan Terandam berubah menjadi ruang teduh yang dipenuhi nuansa religius. Karpet digelar rapi, hidangan sederhana tersusun di tengah, dan satu per satu anggota keluarga datang membawa niat yang sama, menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih.
Kediaman Hj Safrida Irawati dan sang suami H Wendi Nazar menjadi titik temu seluruh keluarga besar. Rumah yang biasanya tenang mendadak hangat oleh suara salam, senyum, dan pelukan rindu dari anak, minantu, hingga cucu-cucu yang pulang berkumpul.
Di ruang tamu itulah tradisi mandoa digelar. Semua duduk bersila membentuk lingkaran, menciptakan suasana akrab tanpa sekat. Wajah-wajah yang berbeda usia menyatu dalam keheningan yang sarat makna.
Aminullah, sebagai ninik mamak, mengambil peran utama memimpin jalannya prosesi. Dengan sikap tenang dan penuh wibawa, ia membuka acara, menegaskan bahwa mandoa bukan sekadar kebiasaan, melainkan warisan adat yang harus dijaga sebagai pengikat keluarga.
Di sisi lain, Hj Safrida Irawati duduk bersandar menyaksikan anak cucunya berkumpul. Sorot matanya menyiratkan rasa syukur. Baginya, momen kebersamaan seperti ini jauh lebih berharga dari apa pun.
H Wendi Nazar pun tampak mendampingi, menyapa setiap anggota keluarga yang hadir. Kehadiran kedua orang tua itu menjadi magnet yang mempersatukan semuanya, seakan rumah tersebut adalah akar tempat seluruh cabang kehidupan kembali bertumbuh.
Anak-anak mereka hadir lengkap. Roy Fadli sebagai kakak tertua datang lebih awal, disusul Masnal, Andri, serta M Irsad. Mereka duduk berdampingan, ditemani para minantu dan cucu-cucu yang tak henti berceloteh pelan, menambah hidup suasana.
Meski sederhana, pertemuan itu terasa istimewa. Tak ada kemewahan, hanya kehangatan yang lahir dari kebersamaan. Cangkir minum dan kue tradisional tersaji sebagai pelengkap silaturahmi.
Setelah nasihat adat dari Aminullah, giliran Ustaz Beni Rahmat memimpin doa. Suaranya mengalun lembut, membacakan ayat-ayat suci yang membuat ruangan terasa semakin khusyuk. Semua menunduk, tangan terangkat, bibir bergetar menyebut amin.
Doa-doa dipanjatkan untuk kesehatan kedua orang tua, keselamatan anak cucu, serta keberkahan rezeki. Harapan agar Ramadhan mendatang menjadi momentum perbaikan diri terasa begitu kuat di setiap kalimat.
Beberapa anggota keluarga tak kuasa menyembunyikan haru. Air mata jatuh perlahan, bukan karena kesedihan, melainkan rasa syukur masih diberi kesempatan berkumpul dalam keadaan lengkap.
Bagi Aminullah, inilah esensi mandoa. Tradisi yang menyatukan adat Minangkabau dengan ajaran agama, menjadikan keluarga sebagai benteng pertama pembentukan karakter dan iman.
Cucu-cucu memperhatikan dengan saksama. Dari sudut ruangan, mereka belajar tanpa sadar tentang arti hormat kepada orang tua, tentang bagaimana keluarga menjaga ikatan lewat doa dan kebersamaan.
Menjelang senja, suasana semakin hangat. Saling bersalaman, berpelukan, dan bermaafan menjadi penutup yang manis. Setiap orang membawa pulang rasa damai yang sulit diungkapkan kata-kata.
Kegiatan mandoa di rumah Hj Safrida Irawati dan H Wendi Nazar itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar ritual tahunan. Ia menjelma pengingat bahwa keluarga adalah tempat pulang, dan doa adalah jembatan yang menyatukan hati sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.
(Andri HD)
