Aminullah Pimpin Doa, Keluarga Hj Syafrida Irawati Ziarah Menjelang Puasa, Roy Fadli Anak Pertama Hadir Paling Awal - NUSANTARA POST

Sabtu, 07 Februari 2026

Aminullah Pimpin Doa, Keluarga Hj Syafrida Irawati Ziarah Menjelang Puasa, Roy Fadli Anak Pertama Hadir Paling Awal


KASANG|Pagi itu, udara Kampung Guci di daerah Kasang terasa lembap dan hening. Hamparan rumput liar yang tumbuh di sekitar pusara seolah menjadi saksi langkah pelan keluarga besar yang datang dengan niat sama, menundukkan kepala, membawa doa, dan mengenang jejak orang-orang tercinta yang lebih dulu berpulang.

Di tengah suasana sederhana itulah Hj Syafrida Irawati berdiri sebagai sosok sentral. Dengan wajah tenang namun sarat kenangan, ia memimpin anak-anak dan cucunya untuk berkumpul mengelilingi pusaro keluarga. Tak ada kemewahan, hanya tikar rumput, batu nisan, dan hati yang dipenuhi rindu.

Kegiatan ziarah ini sengaja dilakukan menjelang datangnya bulan suci Ramadhan. Bagi keluarga besar tersebut, menyambut puasa bukan hanya soal persiapan fisik, melainkan juga membersihkan batin dengan mendoakan para orang tua dan leluhur.

Satu per satu anggota keluarga mengambil posisi duduk mengitari makam. Ada yang bersila, ada yang menatap tanah lama, ada pula yang menggenggam tasbih. Diam mereka bukan kosong, melainkan penuh percakapan batin dengan masa lalu.

Roy Fadli, yang dikenal dengan panggilan Boy, merupakan anak pertama Hj Syafrida Irawati. Ia terlihat paling awal datang dan sigap membantu merapikan area pusara, menyibakkan rumput serta membersihkan sekitar makam sebelum doa dimulai.

Dengan tangan kotor tanah dan keringat di dahi, Roy Fadli menunjukkan bahwa bakti tak selalu lewat kata-kata. Tindakan kecilnya menjadi contoh bagi adik-adik dan keponakan yang ikut menyaksikan.

Masnal dan Andri kemudian menyusul membantu. Mereka menata perlengkapan sederhana, menyiapkan air dan kebutuhan doa. Kebersamaan tumbuh tanpa komando, seolah semua paham perannya masing-masing.

Turut hadir mamak keluarga, Aminullah, sosok yang dituakan. Ia dipercaya memimpin doa bersama. Suaranya pelan namun mantap, melantunkan ayat demi ayat yang membuat suasana semakin khusyuk.

Ibuk Wel, istri Aminullah, duduk tak jauh dari pusara. Wajahnya teduh, sesekali mengusap mata yang berkaca-kaca. Baginya, ziarah adalah cara menjaga hubungan batin dengan keluarga yang telah tiada.

Anak-anak dan cucu-cucu Hj Syafrida Irawati mengikuti doa dengan tertib. Generasi muda yang mungkin belum banyak mengenal kisah masa lalu kini belajar tentang arti menghormati akar keluarga dan nilai adat.

Pusaro berlapis keramik biru sederhana itu menjadi pusat perhatian. Di sanalah kenangan, doa, dan harapan bertemu. Setiap bunga yang ditebar seakan menjadi simbol cinta yang tak pernah putus.

Di sela doa, terselip harapan agar Ramadhan yang segera tiba membawa keberkahan, kesehatan, dan kekompakan bagi seluruh keluarga. Ziarah ini menjadi ruang untuk saling memaafkan dan menata niat.

Tak ada seremoni besar. Hanya lingkaran kecil keluarga yang duduk rapat di atas tanah. Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat momen terasa jujur dan menyentuh.

Hj Syafrida Irawati beberapa kali memandang anak-anaknya satu per satu. Dari Roy Fadli sebagai anak pertama hingga adik-adiknya, ia ingin kebersamaan seperti ini terus terjaga, tak lekang oleh waktu.

Minggu, 8 Februari 2026, menjadi hari yang penuh makna. Langkah mereka ke Kampung Guci bukan sekadar tradisi, melainkan ikhtiar mempersiapkan hati menyambut bulan suci dengan lebih bersih.

Dari pusaro kecil di Kampung Kasang itu, keluarga Hj Syafrida Irawati pulang dengan perasaan damai, membawa rindu yang telah dititipkan lewat doa serta tekad menjaga silaturahmi lintas generasi menjelang Ramadhan.


Andri HD

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda